oke CSE

Loading

Sabtu, 11 Januari 2014

SEPUTAR ANEMIA GIZI BESI (AGB)

ARTIKEL KETIGA :

Menurut definisi, anemia adalah pengurangan jumlah sel darah merah, kuantitas hemoglobin, dan volume pada sel darah merah (hematokrit) per 100 ml darah. Dengan demikian, anemia bukan suatu diagnosis melainkan pencerminan dari dasar perubahan patofisiologis, yang diuraikan oleh anamnesa dan pemikiran fisik yang teliti, serta asi didukung oleh pemeriksaan laboratorium.
Manifestasi klinik
            Pada anemia, karena semua sistem organ dapat terlibat, maka dapat menimbulkan manifestasi klinik yang luas. Manifestasi ini bergantung pada:
(1) kecepatan timbulnya anemia
(2) umur individu
(3) mekanisme kompensasinya
(4) tingkat aktivitasnya
(5) keadaan penyakit yang mendasari, dan
(6) parahnya anemia tersebut.
                Karena jumlah efektif sel darah merah berkurang, maka  lebih sedikit O2 yang dikirimkan ke jaringan. Kehilangan darah yang mendadak (30% atau lebih), seperti pada perdarahan, menimbulkan simtomatoogi sekunder hipovolemia dan hipoksemia. Namun pengurangan hebat massa sel darah merah dalam waktu beberapa bulan (walaupun pengurangannya 50%) memungkinkan mekanisme kompensasi tubuh untuk menyesuaikan diri, dan biasanya penderita asimtomatik, kecuali pada kerja jasmani berat.
Mekanisme kompensasi bekerja melalui:
(1) peningkatan curah jantung dan pernafasan, karena itu menambah pengiriman O2
      ke jaringan-jaringan oleh sel darah merah
(2) meningkatkan pelepasan O2 oleh hemoglobin
(3) mengembangkan volume plasma dengan menarik cairan dari sela-sela jaringan,  dan
(4) redistribusi aliran darah ke organ-organ vital (deGruchy, 1978 ).
Etiologi
  1. Karena cacat sel darah merah (SDM)
         Sel darah merah mempunyai komponen penyusun yang banyak sekali. Tiap-tiap komponen ini bila mengalami cacat atau kelainan, akan menimbulkan masalah bagi SDM sendiri, sehingga sel ini tidak berfungsi sebagai mana mestinya dan dengan cepat mengalami penuaan dan segera dihancurkan. Pada umumnya cacat yang dialami SDM menyangkut senyawa-senyawa protein yang menyusunnya. Oleh karena kelainan ini menyangkut protein, sedangkan sintesis protein dikendalikan oleh gen di DNA.
1. Karena kekurangan zat gizi
 Anemia jenis ini merupakan salah satu anemia yang disebabkan oleh faktor                                                                                                                         
   luar tubuh, yaitu kekurangan salah satu zat gizi. Anemia karena kelainan dalam SDM   disebabkan oleh faktor konstitutif yang menyusun sel tersebut. Anemia jenis ini tidak dapat diobati, yang dapat dilakukan adalah hanya memperpanjang usia SDM sehingga mendekati umur yang seharusnya, mengurangi beratnya gejala atau bahkan hanya mengurangi penyulit yang terjadi.
2. Karena perdarahan
       Kehilangan darah dalam jumlah besar tentu saja akan menyebabkan kurangnya jumlah SDM dalam darah, sehingga terjadi anemia. Anemia karena perdarahan besar  dan dalam waktu singkat ini secara nisbi jarang terjadi. Keadaan ini biasanya terjadi karena kecelakaan dan bahaya yang diakibatkannya langsung disadari. Akibatnya, segala usaha akan dilakukan untuk mencegah perdarahan dan kalau mungkin mengembalikan jumlah darah ke keadaan semula, misalnya dengan tranfusi.
3. Karena otoimun
 Dalam keadaan tertentu, sistem imun tubuh dapat mengenali dan menghancurkan bagian-bagian tubuh yang biasanya tidak dihancurkan. Keadaan ini sebanarnya tidak seharusnya terjadi dalam jumlah besar. Bila hal tersebut terjadi terhadap SDM, umur SDM akan memendek karena dengan cepat dihancurkan oleh sistem imun.

Diagnosis (gejala atau tanda-tanda)
Tanda-tanda yang paling sering  dikaitkan dengan anemia adalah:
  1.  kelelahan, lemah, pucat, dan kurang bergairah
  2. sakit kepala, dan mudah marah
  3. tidak mampu berkonsentrasi, dan rentan terhadap infeksi
  4. pada anemia yang kronis menunjukkan bentuk kuku seperti sendok dan rapuh, pecah-pecah pada sudut mulut, lidah lunak dan sulit menelan.
Karena faktor-faktor seperti pigmentasi kulit, suhu dan kedalaman serta distribusi kapiler mempengaruhi warna kulit, maka warna kulit bukan merupakan indeks pucat yang dapat diandalkan. Warna kuku, telapak tangan, dan membran mukosa mulut serta konjungtiva dapat digunakan lebih baik guna menilai kepucatan.
Takikardia dan bising jantung (suara yang disebabkan oleh kecepatan aliran darah yang meningkat) menggambarkan beban kerja dan curah jantung yang meningkat. Angina (sakit dada), khususnya pada penderita yang tua dengan stenosis koroner, dapat diakibatkan karena iskemia miokardium. Pada anemia berat, dapat menimbulkan payah jantung kongesif sebab otot jantung yang kekurangan oksigen tidak dapat menyesuaikan diri dengan beban kerja jantung yang meningkat. Dispnea (kesulitan bernafas), nafas pendek, dan cepat lelah waktu melakukan aktivitas jasmani merupakan manifestasi berkurangnya pengiriman O2. Sakit kepala, pusing, kelemahan dan tinnitus (telinga berdengung) dapat menggambarkan berkurangnya oksigenasi pada susunan saraf pusat. Pada anemia yang berat dapat juga timbul gejala saluran cerna yang umumnya berhubungan dengan keadaan defisiensi. Gejala-gejala ini adalah anoreksia, nausea, konstipasi atau diare dan stomatitis (sariawan lidah dan mulut).
      
Klasifikasi anemia
Pada klasifikasi anemia menurut morfologi, mikro dan makro menunjukkan ukuran sel darah merah sedangkan kromik menunjukkan warnanya. Sudah dikenal tiga klasifikasi besar.
Yang pertama adalah anemia normositik normokrom. Dimana ukuran dan bentuk sel-sel darah merah normal serta mengandung hemoglobin dalam jumlah yang normal tetapi individu menderita anemia. Penyebab anemia jenis ini adalah kehilangan darah akut, hemolisis, penyakit kronik termasuk infeksi, gangguan endokrin, gangguan ginjal, kegagalan sumsum, dan penyakit-penyakit infiltratif metastatik pada sumsum tulang.
Kategori besar yang kedua adalah anemia makrositik normokrom. Makrositik berarti ukuran sel-sel darah merah lebih besar dari normal tetapi normokrom karena konsentrasi hemoglobinnya normal. Hal ini diakibatkan oleh gangguan atau terhentinya sintesis asam nukleat DNA seperti yang ditemukan pada defisiensi B12 dan atau asam folat. Ini dapat juga terjadi pada kemoterapi kanker, sebab agen-agen yang digunakan mengganggu metabolisme sel.
Kategori anemia ke tiga adalah anemia mikrositik hipokrom. Mikrositik berarti kecil, hipokrom berarti mengandung hemoglobin dalam jumlah yang kurang dari normal. Hal ini umumnya menggambarkan insufisiensi sintesis hem (besi), seperti pada anemia defisiensi besi, keadaan sideroblastik dan kehilangan
darah kronik, atau gangguan sintesis globin, seperti pada talasemia (penyakit hemoglobin abnormal kongenital).
Anemia dapat juga diklasifikasikan  menurut etiologinya. Penyebab utama yang dipikirkan adalah
 (1) meningkatnya kehilangan sel darah merah dan
 (2) penurunan atau gangguan pembentukan sel.
 Meningkatnya kehilangan sel darah merah dapat disebabkan oleh perdarahan atau oleh penghancuran sel. Perdarahan dapat disebabkan oleh trauma atau tukak, atau akibat pardarahan kronik karena polip pada kolon, penyakit-penyakit keganasan, hemoriod atau menstruasi. Penghancuran sel darah merah dalam sirkulasi, dikenal dengan nama hemolisis, terjadi bila gangguan pada sel darah merah itu sendiri yang memperpendek
hidupnya atau karena perubahan lingkungan yang mengakibatkan penghancuran sel darah merah. Keadaan dimana sel darah merah itu sendiri terganggu adalah:
1. hemoglobinopati, yaitu hemoglobin abnormal yang diturunkan, misal nya anemia sel sabit                       
2. gangguan sintetis globin misalnya talasemia
3. gangguan membran sel darah merah misalnya sferositosis herediter
4.defisiensi enzim misalnya defisiensi G6PD (glukosa 6-fosfat dehidrogenase).
Yang disebut diatas adalah gangguan herediter. Namun, hemolisis dapat juga disebabkan oleh gangguan lingkungan sel darah merah yang seringkali memerlukan respon imun. Respon isoimun mengenai berbagai individu dalam spesies yang sama dan diakibatkan oleh tranfusi darah yang tidak cocok. Respon otoimun terdiri dari pembentukan antibodi terhadap sel-sel darah merah itu sendiri. Keadaan yang di namakan anemia hemolitik otoimun dapat timbul tanpa sebab yang diketahui setelah pemberian suatu obat tertentu seperti alfa-metildopa, kinin, sulfonamida, L-dopa atau pada penyakit-penyakit seperti limfoma, leukemia limfositik kronik, lupus eritematosus, artritis reumatorid dan infeksi  virus. Anemia hemolitik otoimun selanjutnya diklasifikasikan menurut suhu dimana antibodi bereaksi dengan sel-sel darah merah –antibodi tipe panas atau antibodi tipe dingin.
Malaria adalah penyakit parasit yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk anopheles betina yang terinfeksi. Penyakit ini akan menimbulkan anemia hemolitik berat ketika sel darah merah diinfestasi oleh parasit plasmodium, pada keadaan ini terjadi kerusakan pada sel darah merah, dimana permukaan sel darah merah tidak teratur. Sel darah merah yang terkena akan segera dikeluarkan dari peredaran darah oleh limpa(Beutler, 1983)
Hipersplenisme (pembesaran limpa, pansitopenia, dan sumsum tulang hiperselular atau normal) dapat juga menyebabkan hemolisis akibat penjeratan dan penghancuran sel darah merah. Luka bakar yang berat khususnya jika kapiler pecah dapat juga mengakibatkan hemolisis.
Klasifikasi etiologi utama yang kedua adalah pembentukan sel darah merah yang berkurang atau terganggu (diseritropoiesis). Setiap keadaan yang mempengaruhi fungsi sumsum tulang dimasukkan dalam kategori ini. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah:
(1) keganasan yang tersebar seperti kanker payudara, leukimia dan multipel mieloma; obat dan zat kimia toksik; dan penyinaran dengan radiasi dan
(2) penyakit-penyakit menahun yang melibatkan ginjal dan hati, penyakit-penyakit infeksi dan defiensi endokrin.
Kekurangan vitamin penting seperti vitamin B12, asam folat, vitamin C dan besi dapat mengakibatkan pembentukan sel darah merah tidak efektif sehingga menimbulkan anemia. Untuk menegakkan diagnosis anemia harus digabungkan pertimbangan morfologis dan etiologi.
Anemia aplastik
Anemia aplastik adalah suatu gangguan pada sel-sel induk disumsum tulang yang dapat menimbulkan kematian, pada keadaan ini jumlah sel-sel darah yang dihasilkan tidak memadai. Penderita mengalami pansitopenia yaitu kekurangan  sel darah merah, sel darah putih dan trombosit. Secara morfologis sel-sel darah merah terlihat normositik dan normokrom, hitung retikulosit rendah atau hilang dan biopsi sumsum tulang menunjukkan suatu keadaan yang disebut “pungsi kering” dengan hipoplasia yang nyata dan terjadi pergantian dengan jaringan lemak. Langkah-langkah pengobatan terdiri dari mengidentifikasi dan menghilangkan agen penyebab. Namun pada beberapa keadaan tidak dapat ditemukan agen penyebabnya dan keadaan ini disebut idiopatik. Beberapa keadaan seperti ini diduga merupakan keadaan imunologis.

Gejala-gejala anemia aplastik
Kompleks gejala anemia aplastik berkaitan dengan pansitopenia. Gejala-gejala lain yang berkaitan dengan anemia adalah defisiensi trombosit dan sel darah putih.
Defisiensi trombosit dapat mengakibatkan:
(1)ekimosis dan ptekie (perdarahan dalam kulit)
(2)epistaksis (perdarahan hidung)
(3)perdarahan saluran cerna
(4)perdarahan saluran kemih
(5)perdarahan susunan saraf pusat.
Defisiensi sel darah putih mengakibatkan lebih mudahnya terkena infeksi.
Aplasia berat disertai pengurangan atau tidak adanya retikulosit jumlah granulosit yang kurang dari 500/mm3 dan jumlah trombosit yang kurang dari 20.000 dapat
mengakibatkan kematian dan infeksi dan/atau perdarahan dalam beberapa minggu atau beberapa bulan. Namun penderita yang lebih ringan dapat hidup bertahun- tahun. Pengobatan terutama dipusatkan pada perawatan suportif sampai terjadi penyembuhan sumsum tulang. Karena infeksi dan perdarahan yang disebabkan oleh defisiensi sel lain merupakan penyebab utama kematian maka penting untuk mencegah perdarahan dan infeksi.
Pencegahan anemia aplastik dan terapi yang di lakukan
Tindakan pencegahan dapat mencakup lingkungan yang dilindungi (ruangan dengan aliran udara yang mendatar atau tempat yang nyaman) dan higiene yang baik. Pada pendarahan dan/atau infeksi perlu dilakukan terapi komponen darah yang bijaksana, yaitu sel darah merah, granulosit dan trombosit dan antibiotik. Agen-agen perangsang sumsum tulang seperti androgen diduga menimbulkan eritropoiesis, tetapi efisiensinya tidak menentu. Penderita anemia aplastik kronik dipertahankan pada hemoglobin (Hb) antara 8 dan 9 g dengan tranfusi darah yang periodik.
Penderita anemia aplastik berusia muda yang terjadi secara sekunder akibat kerusakan sel induk memberi respon yang baik terhadap tranplantasi sumsum tulang dari donor yang cocok (saudara kandung dengan antigen leukosit manusia [HLA] yang cocok). Pada kasus-kasus yang  dianggap terjadi reaksi imunologis maka digunakan globulin antitimosit (ATG) yang mengandung antibodi untuk melawan sel T manusia untuk mendapatkan remisi sebagian. Terapi semacam ini dianjurkan untuk penderita yang agak tua atau untuk penderita yang tidak mempunyai saudara kandung yang cocok.
Anemia defisiensi besi
Anemia defisiensi besi secara morfologis diklasifikasikan sebagai anemia mikrositik hipokrom disertai penurunan kuantitatif pada sintetis hemoglobin.
Defisiensi besi merupakan penyebab utama anemia di dunia. Khususnya terjadi pada wanita usia subur, sekunder karena kehilangan darah sewaktu menstruasi dan peningkatan kebutuhan besi selama hamil.
 Penyebab lain defisiensi besi adalah:
(1)asupan besi yang tidak cukup misalnya pada bayi yang diberi makan susu belaka  sampai usia antara 12-24 bulan dan pada individu tertentu yang hanya memakan sayur- sayuran saja;
(2)gangguan absorpsi seperti setelah gastrektomi dan
(3)kehilangan darah yang menetap seperti pada perdarahan saluran cerna yang lambat karena polip, neoplasma, gastritis varises esophagus, makan aspirin dan hemoroid.
Dalam keadaan normal tubuh orang dewasa rata-rata mengandung 3 sampai 5 g besi,
bergantung pada jenis kelamin dan besar tubuhnya. Hampir dua pertiga besi terdapat dalam hemoglobin yang dilepas pada proses penuaan serta kematian sel dan diangkut melalui transferin plasma ke sumsum tulang untuk eritropoiesis. Dengan kekecualian dalam jumlah yang kecil dalam mioglobin (otot) dan dalam enzim-enzim hem, sepertiga
sisanya disimpan dalam hati, limpa dan dalam sumsum tulang sebagai feritin dan sebagai hemosiderin untuk kebutuhan-kebutuhan lebih lanjut.
Patofisiologi anemia defisiensi besi
Walaupun dalam diet rata-rata terdapat 10 - 20 mg besi, hanya sampai 5% - 10% (1 - 2 mg) yang sebenarnya sampai diabsorpsi. Pada persediaan besi berkurang maka besi dari diet tersebut diserap lebih banyak. Besi yang dimakan diubah menjadi besi fero dalam lambung dan duodenum; penyerapan besi terjadi pada duodenum dan jejunum proksimal. Kemudian besi diangkut oleh transferin plasma ke sumsum tulang untuk sintesis hemoglobin atau ke tempat penyimpanan di jaringan.
Tanda dan gejala anemia pada penderita defisiensi besi
Setiap milliliter darah mengandung 0,5 mg besi. Kehilangan besi umumnya sedikit sekali, dari 0,5 sampai 1 mg/hari. Namun wanita yang mengalami menstruasi kehilangan tambahan 15 sampai 28 mg/bulan. Walaupun kehilangan darah karena menstruasi berhenti selama hamil, kebutuhan besi harian tetap meningkat, hal ini terjadi oleh karena volume darah ibu selama hamil meningkat, pembentukan plasenta, tali pusat dan fetus, serta mengimbangi darah yang hilang pada waktu melahirkan.
Selain tanda dan gejala yang ditunjukkan oleh anemia, penderita defisiensi besi yang berat (besi plasma lebih kecil dari 40 mg/ 100 ml;Hb 6 sampai 7 g/100 ml)mempunyai rambut yang rapuh dan halus serta kuku tipis, rata, mudah patah dan sebenarnya berbentuk seperti sendok (koilonikia). Selain itu atropi papilla lidah mengakibatkan lidah tampak pucat, licin, mengkilat, merah daging, dan meradang dan sakit. Dapat juga timbul stomatitis angularis, pecah-pecah dengan kemerahan dan rasa sakit di sudut-sudut mulut.
Pemeriksaan darah menunjukkan jumlah sel darah merah normal atau hampir normal dan kadar hemoglobin berkurang. Pada sediaan hapus darah perifer, eritrosit mikrositik dan hipokrom disertain poikilositosis dan aniositosis. Jumlah retikulosit mungkin normal atau berkurang. Kadar besi berkurang walaupun kapasitas meningkat besi serum meningkat.
Pengobatan anemia pada penderita defisiensi besi
Pengobatan defisiensi besi mengharuskan identifikasi dan menemukan penyebab dasar anemia. Pembedahan mungkin diperlukan untuk menghambat perdarahan aktif
yang diakibatkan oleh polip, tukak, keganasan dan hemoroid; perubahan diet mungkin diperlukan untuk bayi yang hanya diberi makan susu atau individu dengan idiosinkrasi makanan atau yang menggunakan aspirin dalam dosis besar. Walaupun modifikasi diet dapat menambah besi yang tersedia (misalnya hati, masih dibutuhkan suplemen besi untuk meningkatkan hemoglobin dan mengembalikan persediaan besi. Besi tersedia dalam bentuk parenteral dan oral. Sebagian penderita memberi respon yang baik terhadap senyawa-senyawa oral seperti ferosulfat. Preparat besi parenteral digunakan secara sangat selektif, sebab harganya mahal dan mempunyai insidens besar terjadi reaksi yang merugikan.
Anemia megaloblastik
Anemia megaloblastik diklasifikasikan menurut morfologinya sebagai anemia makrositik normokrom.
Sebab-sebab atau gejala anemia megaloblastik
Anemia megaloblastik sering disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 dan asam folat yang mengakibatkan sintesis DNA terganggu. Defisiensi ini mungkin sekunder karena malnutrisi, malabsorpsi, kekurangan faktor intrinsik  (seperti terlihat pada anemia pernisiosa dan postgastrekomi) infestasi parasit, penyakit usus dan keganasan, serta agen kemoterapeutik. Individu dengan infeksi cacing pita (dengan Diphyllobothrium latum) akibat makan ikan segar yang terinfeksi, cacing pita berkompetisi dengan hospes dalam mendapatkan vitamin B12 dari makanan, yang mengakibatkan anemia megaloblastik (Beck, 1983).
Walaupun anemia pernisiosa merupakan prototip dari anemia megaloblastik defisiensi folat lebih sering ditemukan dalam praktek klinik. Anemia megaloblastik sering kali terlihat pada orang tua dengan malnutrisi, pecandu alkoholatau pada remaja dan pada kehamilan dimana terjadi peningkatan kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan fetus dan laktasi. Kebutuhan ini juga meningkat pada anemia hemolitik, keganasan dan hipertiroidisme. Penyakit celiac dan sariawan tropik juga menyebabkan malabsorpsi dan penggunaan obat-obat yang bekerja sebagai antagonis asam folat juga mempengaruhi.
Pencegahan anemia pada penderita anemia megaloblastik
Kebutuhan minimal folat setiap hari kira-kira 50 mg mudah diperoleh dari diet rata-rata. Sumber yang paling melimpah adalah daging merah (misalnya hati dan ginjal) dan sayuran berdaun hijau yang segar. Tetapi cara menyiapkan makanan yang benar
juga diperlukan untuk menjamin jumlah gizi yang adekuat. Misalnya 50% sampai 90% folat dapat hilang pada cara memasak yang memakai banyak air. Folat diabsorpsi
dari duodenum dan jejunum bagian atas, terikat pada protein plasma secara lemah dan disimpan  dalam hati. Tanpa adanya asupan folat persediaan folat biasanya akan habis
kira-kira dalam waktu 4 bulan. Selain gejala-gejala anemia yang sudah dijelaskan penderita anemia megaloblastik sekunder karena defisiensi folat dapat tampak seperti malnutrisi dan mengalami glositis berat (radang lidah disertai rasa sakit), diare dan kehilangan nafsu makan. Kadar folat serum juga menurun (<4 mg/ml).
Pengobatan anemia pada penderita anemia megaloblastik.
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya pengobatan bergantung pada identifikasi dan menghilangkan penyebab dasarnya. Tindakan ini adalah memperbaiki defisiensi diet dan terapi pengganti dengan asam folat atau dengan vitamin B12. penderita kecanduan alkohol yang dirawat di rumah sakit sering memberi respon “spontan” bila di berikan diet seimbang.
 

KIAT SEDERHANA TANGKAL RADIKAL BEBAS

ARTIKEL KEDUA :

Dalam dua dasawarsa terakhir, pemahaman mengenai mekanisme gangguan kesehatan berkembang, terutama yang berhubungan dengan penyakit degeneratif.  Maka pemahaman seputar radikal bebas dan antioksidan pun berkembang lebih luas.
Proses metabolisme tubuh selalu diiringi pembentukan radikal bebas, yakni molekul-molekul yang sangat reaktif.  Molekul-molekul tersebut memasuki sel dan “meloncat-loncat” di dalamnya.  Mencari, lalu “mencuri” satu elektron dari molekul lain untuk dijadikan pasangan. Pembentukan radikal bebas dalam tubuh pada hakikatnya adalah suatu kejadian normal, bahkan terbentuk secara kontinyu karena dibutuhkan untuk proses tertentu, di antaranya oksidasi lipida.
Tanpa produksi radikal bebas, kehidupan tidaklah mungkin terjadi.  Radikal bebas berperan penting pada ketahanan terhadap jasad renik.  Dalam hati dibentuk radikal bebas secara enzimatis dengan maksud memanfaatkan toksisitasnya untuk merombak obat-obatan dan zat-zat asing yang beracun.
Namun pembentukan radikal bebas yang berlebihan malah menjadi bumerang bagi sel tubuh, karena sifatnya yang aktif mencari satu elektron untuk dijadikan pasangan.  Dalam pencariannya, membran sel dijebol dan inti sel dicederai.  Aksi ini dapat mempercepat proses penuaan jaringan, cacat DNA serta pembentukan sel-sel tumor. Radikal bebas juga “dituding” dalam proses pengendapan kolesterol LDL pada dinding pembuluh darah (aterosklerosis).
Tubuh memerlukan bala bantuan untuk mengendalikan jumlah radikal bebas yang melampaui kebutuhan itu, yaitu antioksidan yang sebenarnya sudah terbentuk secara alamiah oleh tubuh.  Berdasarkan sifatnya, antioksidan mudah dioksidasi (menyerahkan elektron), sehingga radikal bebas tak lagi aktif mencari pasangan elektronnya.
Unsur antioksidan yang terpenting adalah yang berasal dari vitamin C, E dan A serta enzim alamiah. Demi memenuhi tuntunan itu, berbagai upaya dilakukan, misalnya dengan mengonsumsi lebih banyak buah dan sayur yang kaya akan vitamin dan mineral tertentu.  Ada pula yang menempuh cara lebih praktis, yaitu mengonsumsi suplemen, baik yang berbahan dasar alami maupun yang sintetis.
Belum banyak yang memahami benar seberapa banyak kebutuhan tubuh kita akan vitamin A, C dan E yang dikelompokkan sebagai antioksidan.  Sebagai contoh masih terdapat perbedaan pendapat tentang dosis Vitamin C yang perlu dikonsumsi setiap hari.  Sebagian pakar merekomendasikan cukup 60–70 mg, dengan alasan cukup untuk kebutuhan setiap hari.  Jika mengonsumsi berlebih akan terbuang dalam urin. Sedangkan yang lain menganjurkannya 500–1.000 mg agar Vitamin C bukan sekedar memenuhi kebutuhan tubuh untuk stimulasi proses metabolisme, tetapi benar-benar dapat berfungsi sebagai antioksidan.
Beberapa pakar nutrisi berpendapat, bahwa kecukupan antioksidan dapat diperoleh dengan cara  menjaga pola makan bergizi seimbang. Namun, pada kenyatannya tidak banyak yang dapat melakukannya setiap hari.  Sebagai contoh, bagi kalangan berpendapatan kelas menengah-bawah buah-buahan yang dijual pada umumnya relatif mahal, sehingga kebutuhan akan vitamin yang tergolong anti oksidan menjadi berkurang.  Mereka berpendapat dapat digantikan dengan suplemen yang lebih murah. Namun keunggulan suplemen ini tetap kalah jika dibandingkan dengan makanan alami, karena pada yang alami terdapat vito chemicals, yaitu sekumpulan bahan-bahan kimia yang mempunyai fungsi belum diketahui secara rinci.
Ada pula yang berpendapat, dalam mengonsumsi suplemen, mengambil dosis yang moderat, artinya tidak menggunakan vitamin dengan dosis terlalu tinggi, contohnya 500 mg Vitamin C setiap hari.  Penggunaan dosis tinggi dianggap tidak baik bagi kesehatan, apalagi digunakan dalam jangka panjang. “Beberapa studi menunjukkan, dosis terlalu tinggi mengubah sifat antioksidan menjadi prooksidan,” peringatan dr Benny Soegianto, MPH. (alm) dalam sebuah wawancara dengan reporter majalah kesehatan tujuh tahun silam.  Kendatipun demikian sampai saat ini masih banyak konsumen yang tergoda untuk rutin memakai dosis tinggi karena terbuai janji khasiatnya sebagai penghambat proses penuaan.
Tubuh kita sendiri, lanjut dr Benny seringkali mampu memberikan sinyal kekurangan vitamin tertentu.  Sebagai contoh, jika Vitamin B dan C dalam kurun waktu tertentu tidak cukup dikonsumsi dan tubuh sedang bekerja keras, maka akan timbul sariawan dan tubuh akan terasa pegal.  Oleh karenanya kecukupan kedua macam vitamin tersebut perlu dijaga dengan cara–suka tidak suka- mengonsumsi buah segar setiap hari dalam porsi yang memadai.

PENGGUNAAN KAPSUL VITAMIN A DOSIS TINGGI SECARA AMAN

Suplementasi Vitamin A dosis tinggi (200.000 SI atau lebih rendah) yang dilakukan secara berkala kepada anak, dimaksudkan untuk menghimpun cadangan Vitamin A delam hati, agar tidak terjadi kekurangan vitamin A dan akibat buruk yang ditimbulkannya, seperti xeroptalmia, kebutaan dan kematian. Cadangan vitamin A dalam hati ini dapat digunakan sewaktu-waktu bila diperlukan.

Pemberian kapsul vitamin A 200.000 SI kepada anak usia 1-5 tahun dapat emberi perlindungan selama 6 bulan, tergantung berapa banyak vitamin A dari makanan sehari-hari dikonsumsi oleh anak dan penggunaannya dalam tubuh.

TANYA JAWAB TENTANG HIPERVITAMINOSIS VITAMIN A

1.a. Apakah kapsul vitamin A 200.000 SI berbahaya bila diberikan kepada anak umur 1 tahun yang telah cukup mengkonsumsi makanan-makanan sumber vitamin A ?

Tidak. Pada anak-anak, dosis tunggal vitamin A 200.000 SI masih dibawah maksimum daya simpan hati. Kira-kira 50 % dari dosis yang akan disimpan dalam tubuh anak.

1.b Apakah pemberian itu justru akan menolong?

Ya, untuk mencegah kekurangan vitamin A dan akibat-akibatnya termasuk xeroftalmia dan meningkatnya kemaian, sekiranya masukan suplai vitamin A melalui makanan menurun oleh karena berkurangnya nafsu makan, karena sakit. Setelah beberapa waktu menderita kekurangan vitamin A dan/atau menderita penyakit infeksi, cadangan vitamin A yang ada dalam hati cepat sekali terkuras

2.a. Jika seorang anak umur 1 tahun telapak tangannya kekuning-kuningan apakah ini tanda kebanyakan karoten ?

Hal itu merupakan suatu kemungkinan, tetapi sangat jarang terjadi, bahwa pada umur tersebut seorang anak dapat/akan mengkonsumsi karoten dalam jumlah yang dapat menyebabkan perubahan warna kulit.

2c. Apakah kapsul vitamin A dosis 200.000 SI membahayakan?

Tidak. Suplemen kapsul vitamin A dosis tunggal 200.000 SI tidak akan membahayakan, meskipun konsumsi karoten anak tersebut telah tinggi. Hypervitaminosis tidak disebabkan karena kebanyakan konsumsi karotenoid, terutama sekali karena rendahnya tingkat konversi karotenoid menjadi vitamin A.

Catatan :

Ada berbagai bentuk vitamin A. Bentuk jadi vitamin A (retinol) terdapat pada mamalia dan ikan. Karotenoid adalah bentuk provitamin A yang terdapat dalam sayur-sayuran daun berwarna hijau tua dan beberapa buah-buahab berwarna, yang didalam didinding usus diubah menjadi vitamin A aktif. Karotenoid tidak toksis tetapi dapat mewarnai jaringan lemak dan menyebabkan kulit berwarna kekuning-kuningan apabila dikonsumsi dalam dosis yang sangat besar dan dalam jangka waktu yang lama.

3. Apakah kapsul vitamin A 200.000 SI berbahaya bagi anak umur 1 tahun yang menderita penyakit kuning (jaundice)?

Tidak. Kapsul vitamin A 200.000 SI tidak membahayakan anak umur 1 tahun yang menderita penyakit kuning. Penyakit kuning disebabkan karena kerusakan sel-sel darah merah dalam jumlah yang berlebihan, peradangan hati dan/atau penyumbatan dalam hati. Pada semua tipe penyakit kuning, pengobatan harus ditujukan kepada penyebabnya, bukan pada gejalanya. Suplementasi vitamin yang larut dalam lemak seperti vitamin A, dianjurkan.

4. Apa yang akan terjadi bila bayi umur 6 bulan mendapat vitamin A 200.000 SI ?

Bayi umur dibawah 6 yang mendapat dosis tunggal lebih dari 100.000 SI mungkin akan mengalami penonjolan ubun-ubun (bagian lunak pada kepala bayi). Tetapi keadaan ini hanya terjadi pada sebagian kecil bayi (<1%). Penonjolan ini akan membantu menghilangkan tekanan intrakranial yang hanya sedikit meningkat. Tanda-tanda ini hanya sementara dan hilang dalam waktu 2 hari. Jika anak mengkonsumsi vitamin A dosis lebih dari 200.000 SI, maka anak akan merasa agak mual, muntah atau sakit kepala. Hasil ini terjadi pada 5-20 % anak-anak yang mendapat 300.000 SI – 400.000 SI sekali minum. Dosis yang lebih besar dalam jangka waktu yang lebih sering dapat menimbulkan efek samping dan harus dihindari

5. Pemberian vitamin A dosis 50.000 IU kepada bayi umur 6 minggu katanya dapat menyebabkan kerusakan yang tidak dapat disembuhkan. Apakah betul ?

Pedoman WHO (“Field guide to the detection and control of Xerophthalmia, WHO, 1982”) menganjurkan agar anak-anak diberi vitamin A 50.000 IU pada saat lahir (atau 25.000 IU pada kunjungan EPI (kontak imunisasi), yaitu 4 kali dalam umur 6 bulan pertama) untuk mencegah kekurangan vitamin A dan meningkatkan cadangan vitamin A dalam hati.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian vitamin A 50.000 IU dosis tunggal kepada anak -anak di bawah umur 1 bulan tidak menunjukkan, bahwa efek samping. Khususnya, data yang diperoleh dari ribuan anak-anak di Nepal menunjukkan bahwa neonatus (umur < 1 bulan) tahan terhadap dosis tunggal 50.000 IU tanpa tanda-tanda terjadi efek kelebihan. Hanya sedikit sekali dari bayi-bayi usia 1-5 bulan yang mendapat dua kali jumlah ini (100.000 IU sebagai dosis tunggal) yang menunjukkan sedikit penonjolan ubun-ubun (+0.5 %) dan muntah-muntah (+2.0 %). Efek samping terjadi hanya untuk sementara.

6. Apakah bayi dapat mengalami kelebihan vitamin dari ASI, sekiranya ibunya mengkonsumsi terlalu banyak vitamin A ?

Tidak. Telah dibuktikan bahwa ibu menyusui serta bayinya akan memperoleh keuntungan jika ibu mendapat vitamin A oral 200.000 IU dosis tunggal segera setelah melahirkan (dalam waktu 1 bulan/masa nifas) Ini akan menjamin jumlah vitamin A yang cukup dalam ASI untuk membantu memenuhi kebutuhan anak. Jumlah vitamin A dalam ASI tidak akan mencapai kadar yang membahayakan bagi bayi, betapa banyakpun bayi itu disusui. Karena itu kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000) IU harus diberikan kepada ibu nifas.

Catatan

Meskipun konsumsi dan kadar serum vitamin A dari ibu cukup, konsentrasi vitamin A (retinol dan karoten) dalam ASI akan menurun setelah beberapa lama menyusui dan penurunan terbesar terjadi pada awal masa laktasi.

7. Jika ibu hamil mengkonsumsi terlalu banyak vitamin A, apakah ada resiko terhadap janinnya?

Ada kemungkinan terjadi resiko pada janin, bila si ibu mengkonsumsi vitamin A dalam jumlah yang berlebihan, terutama pada trimester pertama. Hasil percobaan binatang menunjukkan terjadi cacat bawaan, baik akibat hipovitaminosis maupun hipervitaminosis A selama kehamilan; tetapi pada manusia hasil tersebut secara statistik tidak bermakna.

Meskipun demikian, mengingat adanya data tentang akibat tersebut diatas, baik pada manusia maupun hewan, bagi wanita-wanita usia subur yang mungkin sedang hamil (misalnya bila telah lebih 6 bulan setelah kelahiran bayi terakhir), sebaiknya hanya mengkonsumsi vitamin A dengan kadar yang secukupnya saja.

8. Apakah vitamin A aman diberikan kepada wanita hamil?

Vitamin A dosis tinggi tidak dianjurkan untuk diberikan kepada wanita hamil. Untuk menjaga kesehatan dapat diberikan dosis kecil, yaitu yang tidak melebihi 10.000 IU per hari.

9. Bagaimana dengan wanita hamil yang menderita bercak Bitot atau gejala lain dari xeroftalmia?

Jika wanita hamil menderita rabun senja atau bercak Bitot, ia harus mendapat vitamin A oral 10.000 IU tiap hari paling sedikit selama 2 minggu.

Bila terjadi xeroftalmia dengan lesi kornea yang aktif pada wanita usia subur atau pada wanita yang mungkin sedang hamil, harus dipertimbangkan antara resiko yang mungkin terjadi pada bayi akibat vitamin A dosis tinggi, dan akibat serius kekurangan vitamin A pada ibu bila ibu tidak mendapat vitamin A dosis tinggi. Menurut WHO, UNICEF dan IVACG, adalah beralasan bahwa dalam keadaan seperti ini ibu segera diberi vitamin A 200.000 IU

10. Sebagai seorang dokter dan pengelola program vitamin A, apa yang harus diketahui tentang frekuensi suplementasi vitamin A/distribusi?

Setiap anak yang membutuhkan vitamin A harus mendapat vitamin A. Ini termasuk juga anak-anak dalam masa pertumbuhan yang seharusnya mendapat vitamin A setiap 6 bulan sekali. Perlu ditambahkan, ini juga termasuk anak-anak yang beresiko tinggi, misalnya terhadap diare yang kronis, campak dan lain-lain. Sebagai contoh, seorang anak yang menderita campak dan telah mendapatkan vitamin A dosis 200.000 IU bulan yang lalu harus mendapatkan tambahan 1 kapsul vitamin A 200.000 IU dan bila perlu diberikan 1 kapsul lagi hari berikutnya. Hal ini akan meningkatkan proses penyembuhan anak dan mencegah kekurangan vitamin A serta komplikasinya.

11. Kapan “hipervitaminosis” atau kelebihan vitamin A dapat terjadi ?

Hipervitaminosis akut

Jika anak umur 1-5 tahun menkonsumsi lebih dari 300.000 IU dosis tunggal, maka mungkin akan menderita mual, sakit kepala dan anoreksia

Hipervitaminosis kronis

Bayi dan anak usia muda dapat menderita hipervitaminosis kronis, jika mereka megkonsumsi lebih dari 25.000 IU tiap hari selama lebih dari 3 bulan baik yang berasal dari makanan maupun dari pemberian suplemen vitamin.

12. Bagaimana tanda-tanda atau gejala-gejala hipervitaminosis vitamin A?

Hipervitaminosis vitamin A

Suatu kondisi dimana kadar vitamin A dalam darah atau jaringan tubuh begitu tinggi sehingga menyebabkan timbulnya gejala-gejala yang tidak diinginkan

Hipervitaminosis akut

Disebabkan karena pemberian dosis tunggal vitamin A yang sangat besar, atau pemberian berulang dosis tunggal yang lebih kecil tetapi masih termasuk dosis besar karena dikonsumsi dalam periode 1-2 hari.

Hipervitaminosis A akut

Pada bayi dan anak-anak biasanya terjadi dalam waktu 24 jam. Pada beberapa anak, mengkonsumsi dosis 300.000 IU atau lebih dapat menyebabkan mual, muntah dan sakit kepala. Penonjolan ubun-ubun dapat terjadi pada bayi umur kurang dari 1 tahun yang mengkonsumsi dosis yang sangat besar. tetapi ini ringan dan akan hilang seketika dalam waktu 1-2 hari. Pengobatannya adalah menghentikan suplementasi vitamin A dan pengobatan simptomatis.

Hipervitaminosis kronis

Disebabkan karena mengkonsumsi dosis tinggi yang berulang-ulang dalam waktu beberapa bulan atau beberapa tahun. Keadaan ini biasanya hanya terjadi pada orang dewasa yang mengatur pengobatannya sendiri.

Hipervitaminosis A kronis

Pada anak-anak usia muda dan bayi biasanya menyebabkan anoreksia (tidak nafsu makan), kulit kering, gatal dan kemerahan, peningkatan tekanan intra-kranial, bibir pecah-pecah, tungkai dan lengan lemah dan membengkak. Pengobatannya adalah menghentikan suplementasi vitamin A dan pengobatan simptomatis. Disamping itu hendaknya terhadap kemungkinan penyakit lain yang dapat merupakan penyebabnya.

13. Jika seseorang mengkonsumsi vitamin A dosis tinggi yang melebihi 200.000 IU, apa yang terjadi pada vitamin A yang berlebih tersebut dalam tubuh?

Sebagian besar dari vitamin A yang berlebih tersebut dalam bentuk yang tidak berubah akan dikeluarkan melalui air seni dan tinja, selebihnya disimpan dalam hati.

Dalam kasus-kasus khusus (jarang terjadi), pemberian vitamin A jangka panjang akan menyebabkan simpanan dalam hati menjadi jenuh, kadar vitamin A dalam hati dan darah akan tetap tinggi sampai tubuh menggunakan kelebihan vitamin A tersebut.

14. Apakah akan terjadi kerusakan hati yang permanen akibat vitamin A dosis tinggi?

Dengan dosis yang sangat tinggi lebih dari berbulan-bulan atau bertahun-tahun, hati dapat membesar dan berlemak. Namun demikian, hati akan kembali normal, begitu suplementasi vitamin A yang berlebihan tersebut dihentikan.

15. Berapa banyak kapsul vitamin A 200.000 IU yang ditelan sekaligus, yang dianggap toksis untuk anak umur 1 tahun yang “intake” vitamin A-nya cukup; dan untuk yang kekurangan vitamin A?

Anak umur 1 tahun tidak diberi dalam bentuk kapsul, kapsul harus dipotong dan dipencet hingga semua isinya masuk dalam mulut anak. Dengan demikian untuk menelan beberapa kapsul sekaligus tampaknya tidak akan terjadi. Pemberian isi dua kapsul sekaligus dapat menyebabkan efek samping. Efek samping ini tidak serius dan hanya bersifat sementara, baik pada anak yang kekurangan vitamin A maupun yang tidak. Namun demikan harus diusahakan agar tidak sampai memberikan 2 kapsul sekaligus.

16. Bagaimana jika umur 1 tahun menerima 2 kapsul vitamin A 200.000 IU dalam satu bulan atau dalam 24 jam?

Anak tidak akan menderita efek samping jika mendapat 2 kapsul dalam satu bulan (lihat no. 15 diatas). Anak-anak dengan xeroftalmia perlu 1 kapsul pada hari pertama dan 1 kapsul lagi pada hari kedua, dan 4 minggu kemudian 1 kapsul lagi. Anak-anak dengan campak perlu segera diberikan 1 kapsul 200.000 IU.

Jika anak mendapat 2 dosis dari 200.000 IU dalam 24 jam, anak mungkin menderita pusing, mual dan muntah. Tetapi ini akan hilang dalam 1 sampai 2 hari.

17. Bagaimana bila anak umur satu tahun menelan 10 kapsul sekaligus ?

Vitamin A 2.000.000 IU merupakan penyebab hipervitaminosis akut dan akan menyebabkan sakit kepala, pusing, mual, muntah dan anoreksia (tidak nafsu makan) yang berat. Hal ini tampaknya dalam prakteknya (pelaksanaannya) tidak akan terjadi. Ingat, kebanyakan anak umur ini tidak mengkonsumsi dalam bentuk kapsul; dan keluarga juga tidak menyimpan/mempunyai persediaan kapsul dalam jumlah besar yang mungkin dapat diambil anak

18. Berapa lama tanda-tanda atau gejala-gejala ini akan hilang setelah konsumsi vitamin A diberhentikan ?

Akut: Gejala-gejala biasanya sementara dan akan hilang dalam waktu 2 hari

Kronis: Masalah yang tampak sebagian besar akan hilang dalam waktu beberapa minggu sampai beberapa bulan

19. Saya seorang perawat, kalau saya menemui kasus dengan gejala kemungkinan (dugaan) hipervitaminosis vitamin A, bagaimana saya mengatasinya ?

Kemungkinan beasr anda tidak akan melihat kasus kelebihan dosis vitamin A. Akan tetapi kalau anda menemui kasus ini, hentikan saja pemberian vitamin A. Gejala-gejala hipervitaminosis vitamin A akan hilang dengan sendirinya dalam waktu 1-4 hari. Jika fasilitas memungkinkan, sebaiknya dirujuk ke Puskesmas dan dilaporkan.

20. Apakah ada resiko keracunan akibat vitamin A yang telah kadaluarsa dan apakah ada resiko pada anak jika mengkonsumsi vitamin A yang telah kadaluarsa ?

Tanda kadaluarsa produk khusus dari vitamin A yang tercantum pada kemasan menentukan akhir masa simpan dari produk tersebut (“shelf life”). Masa simpan suatu produk menyangkut periode yang telah ditentukan, dalam kondisi penyimpanan yang baik, 90 % dari potensi vitamin A yang ditetapkan masih dapat dijamin.

Idealnya kapsul vitamin A disimpan dalam suhu rendah, misalnya <15°C atau <59°F, dalam wadah yang efektif dapat mencegah terkena sinar matahari (berwarna gelap), oksigen, kelembaban, bahan-bahan oksidasi dan logam-logam.

Kapsul yang telah kadaluarsa tidak membahayakan. Akan tetapi, vitamin dalam kapsul tersebut mungkin telah berkurang dibawah nilai yang telah ditetapkan, yaitu 90%, tergantung cara penyimpanannya, sehingga tidak lagi efektif seperti yang diharapkan.

Kapsul vitamin A yang telah disimpan lebih dari 2,5 tahun pada suhu 23°C (73,4°F) dalam wadah berwarna gelap yang tertutup masih mengandung > 90% potensi semula. Pada suhu yang lebih tinggi potensi kapsul akan lebih banyak berkurang. Tak ada resiko bila mengkonsumsi kapsul yang telah lama. Akan tetapi dengan berlalunya waktu, kadar vitamin A akan makin berkurang, sehingga menjadi kurang efektif.

21. Bagaimana kita dapat menentukan kapan botol yang berisi kapsul yang telah kadaluarsa harus dibuang?

Jika dijumpai perubahan fisik pada kapsul vitamin A seperti berjamur, lembik atau saling melengket dan sulit dipisahkan satu sama lain, walaupun belum kadaluarsa sebaiknya tidak digunakan.

Jika anda mempunyai suplai kapsul vitamin A dalam botol dengan jumlah yang besar, yang sudah 1 atau 2 tahun lebih dari tanggal kadaluarsa, sebaiknya dilakukan pemeriksaan laboratorium tentang kadar retinolnya. Ini dibenarkan jika menyangkut jumlah kapsul yang besar karena biaya analisa untuk satu kapsul sama mahalnya dengan harga 3000 kapsul. Karena itu keputusan untuk melakukan analisa potensi hanya dapat dilakukan ditingkat kabupaten/propinsi/pusat.

Akan tetapi, jika tidak dilakukan pemeriksaan kadar vitamin A, maka kapsul yang dibagikan tersebut potensinya mungkin telah berkurang meskipun masih efektif untuk mencegah xeroftalmia (walaupun untuk jangka waktu yang lebih pendek)

22. Apakah pernah terjadi kematian yang secara ilmiah ternyata disebabkan karena terlalu banyak vitamin A?

Belum pernah dilaporkan terdapatnya kasus kematian akibat keracunan vitamin A pada manusia. Perlu diingat bahwa kekurangan vitamin A justru merupakan faktor besar dalam kematian anak, yang dapat dengan mudah diatasi dengan pemberian satu kapsul vitamin A dosis tinggi tiap 6 bulan sekali pada anak usia 1 - 5 tahun

cara memutihkan gigi cara alami

Gigi yang kuning dan tanpak berwarna pudar disebabkan banyak faktor terutama masalah gaya hidup tidak sehat. Tentunya masalah warna gigi ini cukup banyak mempengaruhi anda seperti berkurangnya rasa percaya diri dan penempilan yang kurang menarik.



Untuk mengatasi gigi kuning, kita bisa memakai beberapa cara dan bahan alami seperti yang di jelaskan dibawah in.

Bahan alami untuk memutihkan gigi

Stroberi
Kandungan asam malat dalam stroberi berkhasiat untuk mengubah warna gigi menjadi lebih putih. seorang dokter gigi di New York menjelaskan bahwa stroberi merupakan cara murah untuk mencerahkan senyum Anda. Namun, jangan gunakan terlalu sering, kandungan asam dapat merusak enamel gigi. Caranya, tumbuk satu stroberi matang dan gosokkan pada gigi. Diamkan selama lima sampai 10 menit. Kemudian sikatlah gigi dengan pasta gigi.

Apel
Buah Apel bisa bekerja seperti sikat gigi alami dan dapat digunakan sebagai pemutih gigi. Saat kita mengunyah Apel maka Gigi akan bergesekan dengannya dan bisa untuk mengangkat noda tanpa merusak gigi. Makanlah buah-buahan dan sayuran setelah makan besar.

Baking Soda
Satu lagi bahan alami yang terkenal untuk memutihkan gigi, yaitu baking soda. Baking soda memiliki sifat yang bisa menghilangkan noda pada permukaan gigi.

Keju
Satulagi makanan yang bermanfaat untuk gigi yaitu keju. Makan keju setelah makan besar sangat baik untuk gigi. Keju dan produk lain seperti yoghurt dan susu mengandung kalsium yang dapat memutihkan dan memperkuat gigi.

Mengunyah Permen karet
Mengunyah permen karet juga bisa menjadi kebiasaan yang dapat membuat gigi kita menjadi putih. tentu tidaklah sembarangan permen karet tetapi hanya beberapa jenis permen karet yang didalamnya mengandung Xylitol

Gaya hidup agar gigi putih sehat

Rajin Menggosok Gigi
Menggosk gigi adalah satu cara untuk menjaga kebersihan gigi dari sisa-sisa makanan yang kita makan. Gosok gigi sebelum tidur sangat berperan penting dalam membuat gigi kita bersih dan putih, karena kita akan membersihkan zat-zat perusak gigi yang nempel digigi saat kita makan.

Rajin ke dokter gigi
Salah satu cara jika kita sudah terlanjur memiliki gigi kuning adalah pergi ke dokter gigi agar diberikan perawatan pada gigi kita. Perlu diketahui bahwa beda orang kadang memeiliki sifat Gigi yang berbeda sehingga biar Ahli gigi yang akan menuntaskan masalah kita.

Berkumur Setelah makan
Berkumur setelah makan atau jika perlu gosok gigi setelah makan dapat membantu kita dari gigi kuning karena ada beberapa zat yang terkandung dalam makanan yang bisa saja tersisa di gigi kita dan menyebabkan gigi kuning. Tapi jika kita rajin berkumur setelah makan, maka sisa2 makanan yang berbahaya untuk gigi bisa kita minimalisir.

Berhenti Merokok
Seperti yang kita tau, merokok adalah kebiasaan yang sangat buruk yang merugikan kesehatan kita. salah satu penyebab gigi kuning adalah rokok, jadi jika ingin memiliki warna gigi yang putih, maka kita harus berhenti merokok.

Hindari Alkohol
Alkohol adalah zat yang sangat berbahaya juga. zat ini bisa membuat bau mulut dan masalah kesehatan lainnya salah satunya kesehatan gigi. Alkohol memiliki sifat merusak gigi jika dikonsumsi secara terus menerus.

Demikian tips singkat untuk kesehatan gigi kali ini, semoga bermanfaat.
BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
2.1 Sindrom Klimakterium
2.1.1 Pengertian
Sindrom berasal dari kata “Syndrom” yang berarti kumpulan gejala (Wibatsu,2010). Maka dapat diartikan: himpunan gejala atau tanda yang terjadi serentak ( muncul bersama-sama) dan menandai ketidaknormalan tertentu. Hal-hal seperti emosi atau tindakan yang biasanya secara bersama-sama membentuk pola yang diidentifikasikan (www.artikal.com).
Sedangkan klimakterium berasal dari kata “climacter” yang berarti tahun perubahan. Pergantian tahun yang berbahaya bagi wanita yang mengalami masa menopause, baik menopause dini, pre-menopause, perimenopause dan post menopause, umumnya mengalami gejala puncak (klimakterik) dan mempunyai masa transisi atau masa peralihan. Periode klimaterium ini dibut pula sebagai periode kritis yang ditandai dengan rasa terbakar (hot flush), haid tidak teratur, jantung berdebar dan nyeri saat berkemih(Proverawati,2010).
Klimsterium merupaka masa peralihn antara masa reproduksi dan masa senium. Biasanya masa ini disebut juga pra menopause antara usia 40-60 tahun, yang ditandai dengan siklus haid yang teratur, dengan perdarahan haid yang memanjang dan relative banyak (Nugroho, 2010). Sedangkan Hurlock (2002) menjelaskan bahwa masa klimakterium disebut juga masa dewasa madya, saat mulai perubahan-perubahan fisik dan psikologs yang menyertai berkurangnya kemampuan reproduktif. Masa dewasa madya dimulai umur 40-60 tahun, yakni saat menurunnya kemampuan fisik dan psikologis yang jelas pada saat masa dewasa lanjut yang dimulai pada usia 60 tahun sampai kematian (Inuwicaksana.blog spot.com/2010). Masa klimakterium meliputi pra menopause, menopause dan pasca menopause. Pada wanita terjadi antara umur 40-65 tahun (bidan-desa.blogspot.com/2009).
Klimakterium yang terjadi pada wanita yang berumur kurang dari 40 tahun disebut klimakterium prekoks (bidan-desa.blogspot.com/2009). Sindrom klimakterium adalah kumpulan gejala vasomotorik dan psikologis yang timbul akibat menurunnya produksi estrogen ovarian (Suparman, 2002 dalam Winarsi, 2004).
Sindrom klimakterium klinis adalah keluhan-keluhan yang timbul pada masa premenopause, menopause, dan pascamenopause. Sindrom klimakterium endokrinologis adalah penurunan kadar estrogen, peningkatan kadar gonadotropin (FSH dan LH), disebut juga sebagai sindrom defisiensi estrogen (http://www.dkk-bpp.com).
Beberapa penulis menyatakan bahwa masa klimakterium adalah masa penyesuaian diri seorang wanita terhadap menurunnya produksi hormon-hormon yang dihasilkan ovarium dan dampaknya terhadap poros hipotalamus-hipofisis dan organ sasaran (bidan-desa.blogspot.com.2009).
Menurut Dwi Lestary tahun 2010, meski menopause mengandung arti akhir masa menstruasi, tetapi secara umum menopause mempunyai makna masa transisi atau peralihan dari tahun sebelum menstruasi terakhir sampai tahun sesudahnya. Dengan arti menopause merupakan suatu proses peralihan dari masa produktif menuju perlahan-lahan ke masa non produktif yang disebabkan oleh berkurangnya hormone estrogen dan progesterone.

2.1.2 Diagnosa
1.  Umur dan gejala yang timbul. Apabila seorang wanita usia ± 40 tahun dan selalu terlihat dari riwayat kesehatan wanita dan gejala yang mendukungnya.
2. Terjadi penurunan kadar estrogen/estradiol dan meningkatnya kadar FSH dan LH. Yang paling mencolok peningkatannya adalah FSH. Kadar FSH yang tertinggi dapat berfungsi sebagai sinyal bahwa tubuh memasuki masa premenopause. Kadar FSH normal 3 hari nilainya 3-20 mlU/ml. Kadar FSH di atas 10-12mlU/ml menunjukkan bahwa ovarium mulai mengalami penurunan. Normal estradiol hari ke-3 kadarnya mencapai nilai 25-75 pg/ml. (FSH=10-12xLH=5-10x/estrogen rendah).
3. Kalsium, Kolesterol
Tubuh orang dewasa mengandung sekitar 1000-1300 g kalsium (kurang dari 2% berat tubuh). Kandungan normal kalsium darah adalah 9-11 mg per 100 ml darah. Sekitar 48% serum kalsium berbentuk ion dan 46% terdapat dalam senyawa protein darah. Selebihnya dalam bentuk senyawa komplek yang mudah berdifusi, seperti asam sitrat. Kalsium mengalami penurunan pada masa pre menopause sedangkan kolesterol mengalami kecenderungan meningkat pada masa pre menopause. Normal total cholesterol <200 mg/dl dan normal LDL, cholesterol>1300mg/dl.
4. Foto tulang lubang I, dilakukan untuk mengetahui gambaran osteoporosis.
5. Sitologi (Pap Smear), digunakan untuk membantu melengkapi pemeriksaan pre menopause.
6. Biopsi endometrium, dilakukan untuk mendiagnosisi masa-masa klimakterium, hal ini juga memungkinkan untuk mengetahui apakah kadar hormone yang mempengaruhi endometrium berada dalam keseimbangan. Selain itu juga untuk menemukan penyebab pendarahan abnormal berkenaan dengan uterus, untuk memeriksa pertumbuhan sel yang terlalu cepat (endometrial hyperplasia), atau untuk memeriksa kanker (Proverawati, 2010).

2.1.3 Pemeriksaan
Pemeriksaaan tahunan terhadap wanita yang sedang berada pada masa klimakterium harus mencakup hal-hal yang penting seperti:
1. Tinggi badan, wanita mungkin akan kehilangan TB sebanyak 2,5 cm atau lebih.
2. Kulit, evaluasi integritas, luka dan perubahan pada tahi lalat, mulut, gigi dan gusi.
3. Pemeriksaan panggul dengan perhatian terhadap perubahan yang menyertai proses penuaan.
4. Rectum, periksa adanya massa dan fisura-fisura.
(Bidan-desa.blogspot.com.2009).

2.1.4 Patofisiologi
Pada usia reproduksi, indung telur wanita mengandung 200.000-400.000 folikel yang berisi bahan-bahan yang diperlukan untuk membentuk sel telur. Indung telur juga menghasilkan dua jenis hormon utama, yaitu estrogen dan progesterone. Kemampuan indung telur menghasilkan folikel dan hormone menurun dengan bertambahnya usia. Menopause terjadi apabila pembentukan sel telur pada folikel berhenti. Tetapi masih memproduksi testosterone walaupun dalam jumlah kecil (bidan-desa.blogspot.com.2009).

2.1.5 Etiologi
Sebelum haid seorang wanita berhenti terjadi berbagai perubahan dan penurunan fungsi pada ovarium seperti sclerosis pembuluh darah, berkurangnya jumlah folikel dan menurunnya sintesis steroid seks yang disebabkan penurunan sekresi estrogen, sehingga terjadi gangguan umpan balik pada hipofise (Hanifa, 1999 dalam bidan-desa.blogspot.com/2009).

2.1.6 Perubahan Organ pada Masa Klimakterium
1. Perubahan pada Organ Reproduksi
a. Uterus (Rahim)
Uterus mengecil, selain disebabkan atrofi endometrium juga disebabkan oleh hilangnya cairan dan perubahan bentuk jaringan ikat interstisial. Serabut otot myometrium menebal, pembulih darah myometrium menebal dan menonjol.
b. Tuba Falopii (saluran telur)
Lipatan-lipatan tuba menjadi lebih pendek, menipis dan mengkerut, endosalpingo menipis mendatar dan silia menghilang.
c. Serviks (Mulut Rahim)
Serviks akan mengkerut sampai terselubung oleh dinding vagina, kripta servikal atropik, kanalis, servikalis memendek, sehingga menyerupai ukuran serviks fundus saat masa adolesen.
d. Vagina
Terjadinya penipisan vagina menyebabkan hilangnya rugae, berkurangnya vaskularisasi, elastisitas yang berkurang, secret vagina menjadi encer, indeks kario piknotik menurun. Keasaman vagina meningkat karena terhambatnya pertumbuhan basil Donderlein yang menyebabkan glikogen seluler meningkat, sehingga memudahkan terjadinya infeksi. Uretra ikut memendek dengan pengerutan vagina, sehingga meatus eksternal melemah menyebabkan urethritis dan pembentukan karankula.
e. Dasar Panggul
Kekuatan dan elastisitas menghilang, karena atropi dan lemahnya daya sokong disebabkan prolapses utero vaginal.
f. Perineum dan Anus
Lemak sub kutan menghilang, atropi, otot sekitarnya menghilang yang menyebabkan tonus spinker melemah dan menghilang. Seiring terjadinya inkotinensia alvi vagina.
g. Vesika Urinaria
Tampak aktivitas kendali spinker dan destrusor hilang, sehingga sering kencing tanpa sadar.
h. Kelenjar Payudara
Diserapnya lemak sub kutan, atropi jaringan parenkim, lobules, menciut, stroma jaringan ikat fibrosa menebal. Putting susu mengecil, kurang erektil, pigmentasi berkurang, sehingga payudara menjadi datar dan mengendor.
2. Perubahan di Luar Organ Reproduksi
a. Adipositas (peninbunan lemak)
Penyebaran lemak ditemukan pada tungkai atas, pinggul, perut bawah dan lengan atas. Ditemukan 29% wanita klimakterium memperlihatkan berat badan yang sedikit dan 20% kenaikan yang menyolok. Diduga ada hubungan dengan turunnya estrogen dan gangguan pertukaran zat dasar metabolisme lemak.
b. Hipertensi (tekanan darah tinggi)
Adanya gejolak panas terjadi suatu peningkatan tekanan darah baik sistol maupun diastole. Diketahui bahwa 2/3 penderita hipertensi esensial primer adalah wanita antara 45-70 tahun. Pada permulaan peningkatan tekanan darah paling banyak terjadi selama masa klimakterium. Peningkatan tekanan darah pada usia klimakterium terjadi secara bertahap, kemudian menetap dan lebih tinggi dari tekanan darah sebelumnya.
c. Hiperkolesterolemia (kolesterol tinggi)
Penurunan atau hilangnya kadar estrogen menyebabkan peningkatan kolesterol. Peningkatan kadar kolesterol pada wanita terjadi 10-15 tahun lebih lambat pada laki-laki. Peningkatan kadar kolesterol merupakan factor utama dalam penyebab arterosklerosis.
d. Aterosklerosis (perkapuran dinding pembuluh darah)
Adanya hipertensi dan meningkatnya kadar kolesterol menyebabkan peningkatan factor resiko terhadap terjadinya aterosklerosis. Sclerosis coroner primer dan infark miocard akan terjadi 1-2 kali lebih sering setelah kadar estrogen menurun.
e. Virilisasi (pertumbuhan rambut-rambut halus)
Turunnya estrogen dalam darah dan adanya efek androgen menyebabkan tanda-tanda diferensiasi dari defeminisasi dan maskulinisasi. Hal ini berhubungan dengan  ovarium sendiri dalam membentuk estrogen yang bersifat androgen.
f. Osteoporosis (keropos tulang)
Dengan menurunnya kadar estrogen, maka proses osteoblast yang berfungsi dalam pembentukan tulang akan terhambat dan fungsi osteoclast dalam  merusak tulang akan meningkat. Karena tulang tua diserap dan dirusak oleh osteoclast tetapi tidak dibentuk tulang menjadi osteoporosis. (Proverawati, 2010).

2.1.7 Tanda dan Gejala Klimakterium
1. Tanda-tanda Klimakterium
Pada umumnya, menopause ini diawali dengan suatu fase pendahuluan fase pre menopause (klimakterium), yang menandai suatu proses “pengakhiran” maka munculnya tanda-tanda, antaralain:
a. Menstruasi menjadi tidak lancer dan tidak teratur
b. “kotoran” haid yang keluar banyak sekali, ataupun sangat sedikit
c. Munculnya gangguan-gangguan vasomotoris berupa penyempitan atau pelebaran pada pembuluh-pembuluh darah.
d. Merasa pusing disertai sakit kepala.
e. Berkeringat tiada hentinya.
f. Neuralgin atau gangguan/sakit syaraf.
2. Gejala Sindrom Klimakterium
a. Gangguan Vasomotor
Hot flush (perasaan panas dari dada hingga wajah), wajah dan leher menjadi berkeringat. Kulit menjadi kemerahan muncul di dada dan lengan terasa panas (hot fluses) terjadi beberapa bulan atau tahun sebelum atau sesudah berhentinya menstruasi. Perasaan panas terjadi akibat peningkatan aliran darah di dalam pembuluh darah, wajah, leher, dada, dan punggung. Kulit menjadi merah dan hangat disertai dengan keringat yang berlebihan (keringat terutama pada malam hari) palpitasi dan jantung berdebar-debar. Hot flush dialami oleh sekitar 75% wanita pre menopause sampai menopause terjadi. Kebanyakan hot flush dialami selama lebih dari 1 tahun dan 25-50% wanita mengalaminya sampai lebih dari 5 tahun. Hot fush berlangsung selama 30 detik sampai 5 menit.
b. Nigh Sweat (keringat di malam hari)
Keringat dingin dan gemetaran juga dapat terjadi, selama 30 detik sampai 5 menit.
c. Dryness Vaginal (kekeringan pada vagina)
Area genetalia yang kering dan bias sebagai bahan perubahan kadar estrogen. Kekeringan ini dapat membuat area genetalia. Infeksi vagina dapat menjadi lebih umum.
d. Penurunan daya ingat dan mudah tersinggung
Penurunan kadar estrogen berpengaruh terhadap neurotransmitter yang ada di otak. Neurotransmitter yang terdapat di otak antara lain: dopamine, serotonin dan endorphin. Dopamine mempunyai fungsi untuk mempengaruhi emosi, system kekebalan tubuh dan seksual. Serotonin berfungsi untuk mempengaruhi suasana hati dan aktivitas istirahat. Sedangkan endorphin menjalankan fungsi yang berhubungan dengan ingatan dan perasaan seperti rasa nyeri dan sakit. Penurunan kadar endorphin, dopamine, dan serotonin tersebut mengakibatkan gangguan yang berupa penurunan daya ingat dan suasana hati yang sering berubah atau mudah tersinggung.
e. Insomnia (susah tidur)
Hot flush juga menyebabkan perempuan terbangun dari tidur. Selain itu kesulitan tidur dapat disebabkan karena rendahnya kadar serotonin pada masa klimakterium.
f. Gejala akibat kelainan metabolic
Meliputi kelainan metabolism lemak di hati. Penurunan kadar estrogen menyebabkan meningkatnya kadar kolesterol LDL dan menurunnya kadar kolesterol HDL.
g. Depresi (rasa cemas)
Turunnya hormone estrogen menyebabkan turunnya neurotransmitter di dalam otak. Neurotransmitter tersebut mempengaruhi suasana hati sehingga jika kadarnya rendah akan mengakibatkan munculnya perasaan cemas yang merupakan pencetus terjadinya depresi ataupun stress.
h. Fatigue (mudah lelah)
Rasa lelah sering kali muncul ketika menjelang masa premenopause karena terjadi perubahan hormonal pada wanita yaitu terutama hormonal estrogen.
i. Penurunan libido
Para peneliti melaporkan, wanita yang keinginan seksualnya berkurang selama menopause lebih banyak melaporkan gangguan tidur, keringat malam dan depresi. Menurut study yang dipublikasikan pada edisi Juni 2007, Amerika Joural of Obstetrics dan Gynecology, 341 partisipan peri dan pasca menopause melaporkan mengalami kualitas tidur jelek. Beberapa wanita mengalami penurunan gairah seks ketika menjelang pre menopause. Hal tersebut terjadi karena perubahan pada vagina, seperti kekeringan, yang membuat alat genetalia sakit dan selain itu terjadi perubahan hormonal sehingga dapat menurunkan gairah seks. Libido yang rendah mungkin disebabkan masalah psikologi, biologis, atau social atau jadi membutuhkan penyelidikan aspek-aspek untuk mengetahui penyebabnya.
j. Drypareunia (rasa sakit ketika berhubungan seksual)
Hal ini terjadi karena vagina menjadi pendek menyempit, hilang elastisitas, epetelnya tipis dan mudah trauma karena kurang lubriaksi.
k. Inkontinensia urin (besar)
Beberapa perempuan resiko lebih terhadap adanya infeksi saluran urin, masalah lain yang muncul adalah kesulitan untuk menampung air seni yang cukup lama sehingga sehingga dapat ke kamar mandi. Beberapa wanita menemukan bahwa kebocoran air seni selama latihan bersin, batuk, tertawa atau berjalan. Gejala yang disebabkan oleh Karena otropi urogenitalis yang dirasakan kering pada vagina, rasa perih keputihan, rasa panas pada vagina, selalu ingin kencing disareunia dan noturia. Insidensi inkontonentensi urin pada komunikasi wanita pasca menopause adalah 15-50%.
l. Ketidakteraturan siklus haid
Adanya gangguan siklus haid seperti polymenorrhoea, amennorrhoea dan metrorrhagia, hal ini terjadi karena kadar estrogen menurun saat pre menopause.
m. Gejala kelainan metabolism mineral
Mudah terjadi faktur pada tulang, akibat ketidakseimbangan absorpsi dan resorbsi mineral terutama kalsium. Bila hal ini berlangsung lama dapat menyebabkab osteoporosis. Selama tahun awal pre menopause, laju kehilangan masa tulang sekitar 3% pertahun.
n. Keluhan lain dapat berupa sakit kepala, rematik, sakit pinggang, sesak napas. (Proverawati, 2010).

2.1.8 Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Gejala Klimakterium
1. Faktor Psikis
Perubahan-perubahan psikologi maupun fisik ini berhubungan dengan kadar estrogen, gejala yang menonjol adalah berkurangnya tenaga dan gairah, berkurangnya konsentrasi dan kemampuan akademik, timbulnya perubahan emosi seperti mudah tersinggung, susah tidur, rasa kekurangan, rasa sepi, ketakutan, tidak sabar lagi dan lainnya. Perubahan psikis ini berbeda-beda tergantung dari kemampuan wanita tersebut untukmenyesuaikan diri. (Proverawati, 2010).
2. Sosial Ekonomi
Keadaan sosial ekonomi mempengaruhi faktor fisik, kesehatan dan pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu factor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang. Apabila factor-faktor tersebut cukup baik, akan mengalami beban fisiologis, psikologis (Proverawati, 2010).
3. Budaya dan Lingkungan
Budaya dan lingkungan merupakan salah satu factor yang mempengaruhi pengetahuan, keyakinan dan sikap seseorang. Pengaruh budaya dan lingkungan sudah dibuktikan sangat mempengaruhi wanita untuk dapat atau tidak dapat menyesuaikan dengan fase klimakterium dini. Menurut Azwar (2010) kebudayaanlah yang menanamkan garis pengarah sikap individu terhadap masalah. Pembentukan sikap tergantung pada kebudayaan tempat individu tersebut dibesarkan.
4. Factor lain
Wanita yang belum menikah, wanita karier, baik yang sudah atau belum berumah tangga,menarch (menstruasi pertama) yang terlambat berpengaruh terhadap keluhan-keluhan klimakterium yang ringan (Proverawati, 2010).

2.1.9 Dampak Terjadinya Sindrom Klimakterium
1. Masalah Fisik
Dengan bertambahnya usia, kemampuan tubuh untuk memperoleh lemak berkurang dan lemak membutuhkan waktu yang cukup lama untuk masuk dalam darah. Akibatnya pada masa pre menopause wanita beresiko kelebihan berat badan yang bias berujung pada penyakit jantung coroner dan penyempitan pembuluh darah, resiko penyakit lainnya adalah:
a. Resiko kanker payudara
Salah satu factor penyebab terjadinya kanker payudara adalah peningkatan konsumsi lemak. Pada penelitian yang dimuat di jurnal American Medikal Association edisi Juli 2006, ditemukan wanita yang mengalami tambahan BB 10 kg atau lebih pasca menopause menghadapi peningkatan resiko kanker payudara sebanyak 18% sementara wanita yang mengalami kenaikan BB 27 kg sejak usia 18 tahun sampai masa pre menopause menghadapi peningkatan resiko kanker payudara hinga 45%.
b. Resiko kanker leher Rahim (serviks)
c. Resiko kanker Rahim
d. Insomnia (terganggu pada pola tidur)
e. Resiko osteoporosis
f. Resiko penyakit jantung dan pembuluh darah
2. Masalah Psikis
Beberapa penelitian telah dibuktikan bahwa tekanan psikis yang timbul dari nilai social mengenai wanita menopause memberikan kontribusi terhadap gejala fisik selama periode pre dan pasca menopause. Gejala fisik yang dirasakan dapat memicu munculnya masalah psikis perasaan yang biasa muncul pada fse ini antara lain rapuh, sedih, dan tertekan. Akibat wanita pada masa pre menopause menjadi depresi tidak konsentrasi bekerja dan mudah tersinggung. Namun dalam masyarakat Bugis fase menopause ini dinilai sebagai sesuatu yang positif karena wanita menopause merasa tubuhnya lebih bersih dan dapat menjalankan ibadah dengan penuh. (Proverawati, 2010).

2.1.10 Pencegahan Sindrom Klimakterium
1. Pengaturan makanan
a. Menghindari kopi, alkohol dan makanan pedas karena dapat menyebabkan efek yang akan mengganggu kesehatan dan meningkatkan sindrom klimakterium.
b. Tidak merokok karena merokok dapat mempercepat terjadinya sindrom klimakterium
c. Makan makanan rendah lemak dan kacang-kacangan (kedelai, kacang buncis dan jenis golongan lainnya).
d. Konsumsi Isoflavon
Yaitu diet dari tumbuh-tumbuhan terutama yang sumber utamanya kedelai, karena dapat mencegah osteoporosis. Selain itu, kasiat Isoflavon bermacam-macam misalnya kardiopretektif juga dapat digunakan untuk mencegah dan menurunkan resiko terjadinya kanker payudara.
2. Suplemen makanan 
a. Pemenuhan kebutuhan kalsium sebanyak 1200-1500 mg setiap harinya.
b. Kebutuhan vitamin D sebanyak 800 mg.
c. Vitamin E, banyak terdapat pada sayuran hijau, buah-buahan, minyak nabati (minyak biji gandum, kedelai dan minyak jagung).
3. Teknik relaksasi
Relaksasi merupakan salah satu cara yang dilakukan sendiri oleh individu untuk mengurangi stress, kekalutan emosi, dan bahkan dapat mereduksi berbagai gangguan-gangguan fisiologis dalam tubuh. Ketika beratnya stressor yang dihadapi, teknik relaksasi dapat dilakukan sendiri untuk memeberikan ketenangan, relaksasi lebih memberikan dampak positif dibandingkan menangis, salah satu cara umum (alami) yang dilakukan orang ketika sedang menghadapi situasi tertekan.
4. Olahraga
Olahraga teratur minimal 30 menit dalam sehari. Olahraga mempunyai berbagai manfaat. Olahragra dapat mengurangi berbagai keluhan pada saat sindrom pre menopause terjadi rasa percaya diri serta energy dapat ditingkatkan dengan berolahraga. Olahraga teratur juga dapat membantu mencegah sakit punggung bagian bawah (low back pain). Hanya 30 menit, tiga sampai lima kali seminggu waktu yang diperlukan untuk meningkatkan kesehatan dengan berolahraga.
5. Aktivitas seksual
a. Aktivitas seksual tetap dilakukan
b. Gunakan air hangat
c. Senam untuk menguatkan otot panggul (kagel)
6. Cek kesehatan (medical chek-up secara teratur). (Proverawati, 2010).
7. Melakukan hobi yang menyenangkan dapat mengusir kebosanan.
8. Tetaplah bekerja dan usahakan dapat memberikan manfaat bagi orang lain, datangnya menopause tidak perlu dipandang sebagai penderitaan.
9. Berfikirlah bahwa menopause itu merupakan suatu hal yang wajar terjadi.
10. Terlibat dalam aktvitas keagamaan, social dengan memberikan apa yang dimiliki pada orang lain, akan dapat mengurangi perasaaan negative yang mungkin muncul. (lestary, 2010).

2.1.11 Terapi untuk Menangani Sindrom Klimakterium
1. Terapi hormone pengganti terapi sulih hormone
a. Tujuan terapi sulih hormone
Pada tahap pre menopause penambahan hormone estrogen, dapat bermanfaat bagi kesehatan kaum wanita. Sebelum menjalani terapi hormone estrogen wanita harus menjalani terlebih dahulu pemeriksaan terhadap rahim, kelenjer payudara, darah, air seni, fungsi hati dan ginjal, lemah darah, gula darah dan disfungsi pengentalan darah, dengan demikian baru dapat diperoleh pengobatan yang aman dan efektif. TSH untuk meringankan gejala yang menyertai sindrom pre menopause, mencegah osteoporosis serta menjaga kestabilan badan.
b. Jenis-jenis Hormon Pengganti
Ada beberapa macam jenis TSH/HRT (Hormon Replacement Therapy) yaitu dengan estrogen saja, serta dengan kombinasi estrogen dan progesterone. HRT dengan kombinasi progesteron merupakan pilihan yang efektif untuk mengatasi gejala pre menopause.
c. Stretegi terapi
Strategi jangka pendek dilakukan untuk tujuan simtomatik,